Mau ketemu dosen itu rasanya sesuatu. Malesnya kadang pake banget. Selalu cari-cari alasan biar gak jadi ketemu. Dan semua alasan bisa jadi masuk akal.. (Huahaha.. Kelompokku banget.. :D)

Tapi setelah ketemu dosen rasanya kayak abis sisiran (???). Semua yang bikin bingung, semua masalah yang bikin ribet, hilang seketika.. (dan diganti dengan masalah baru.. Hehehe..)

Aku sangat bersyukur dapet pembimbing yang super duper pengertian. Semoga aku tetap bisa ngelakuin yang terbaik. Aamiin…

Wish me luck.. :)

Catatan Seorang Pembelajar: RESEP CINTA IBNU ATHAILLAH

Cinta sejati itu menyembuhkan tidak menyakitkan. Dari Ibnu Athaillah Beliau mengatakan: layukhriju asy syahwata illa khaufun muz’ijun aw syauqun muqliqun! Artinya tidak ada yang bisa mengusir syahwat atau kecintaan pada   kesenangnn duniawi selain rasa takut kepada Allah yang menggetarkan hati, atau rasa rindu kepada Allah yang membuat hati merana!

Lebih jelasnya ada dua hal yang bisa mengusir syahwat atau kecintaan pada kesenangan duniawi,yaitu : Pertama, rasa cinta kepada Allah yang luar biasa yang menggetarkan hatimu. Sehingga ketika yang ada di hatimu adalah Allah, yang lain dengan sendirinya menjadi kecil  dan terusir. Kedua, rasa rindu kepada Allah yang dahsyat sampai hatimu merasa merana. Jika kau merasa merana karena rindu kepada Allah, kau tidak mungkin merana karena rindu pada yang lain. Jika kau sudah sibuk memikirkan Allah, kau tidak akan sibuk memikirkan yang lain.

“Benar.Mencintai makhluk itu sangat berpeluang menemui kehilangan. Kebersamaan dengan makhluk juga berpeluang mengalami perpisahan. Hanya cinta kepada Allah yang tidak. Jika kau mencintai seseorang ada dua kemungkinan diterima dan ditolak. Jika ditolak pasti sakit rasanya. Namun jika kau mencintai Allah pasti diterima. Jika kau mencintai Allah, engkau tidak akan pernah merasa kehilangan. Tak akan ada yang merebut Allah yang kau cintai itu dari hatimu. Tak akan ada yang merampas Allah. Jika kau bermesraan dengan Allah, hidup bersama Allah, kau tidak akan pernah berpisah dengannya. Allah akan  setia menyertaimu. Allah tidak akan berpisah darimu. Kecuali kamu sendiri yang berpisah dari-Nya. Cinta yang paling membahagiakan dan menyembuhkan adalah cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Untuk para jiwa yang rindu akan ketenangan yang menyejukan qolbu..ketenangan yang melegakan ragu,penghapus rasa lelah dengan pengharapan yang tiada arti..

Semoga kita tetap diberi perlindungan dari apa yang setan bisikan dalam diri ini,dan selalu dijaga keistiqomahan dalam mencintai karena Allah semata..aamiin
 

__Kutipan diatas diambil Dari novel ketika cinta bertasbih 1 karya Habiburrahman El Shirazy

Tadinya aku pengen posting kutipan dari sebuah buku. Tapi, setelah aku cari-cari kutipannya gak ketemu..

Sebenernya bukan gak ketemu sih.. Aku inget rentang halamannya. Tapi, aku gak nemuin feel yang sama saat pertama dulu aku baca. Aku gak nemuin feel seperti saat itu dan langsung mutusin buat langsung ke kasir.

Haha.. Wajar sih, suasananya beda.. :D

Tapi setelah aku bolak-balik halaman buku itu aku nemuin sebuah puisi. Beberapa kali aku baca puisi ini. Dan mungkin kira-kira seperti puisi inilah feel yang aku rasain waktu itu. Suasana seperti ini yang aku rasakan..

Ketika curahan kasih-Nya menyapa dengan cara-Nya,

nikmati,

hikmati,

maka ia akan “berbicara”

menuntun hidup lebih bermakna,

lebih kaya warna,

menawarkan keindahan sejati.

Dengarkanlah melodinya,

rasakanlah getarannya,

adalah nada kebenaran,

yang menjadi nyanyian semesta.

Subhanallah..


Heni Hendayani & Amatullah Shafiyyah dalam Karena Bidadari Ada di Bumi.

Walau aku gak bisa nunjukin kutipan yang aku maksud tapi semoga kalian bisa merasakan apa yang aku rasa.. :)

MASGUN: Tulisan: Aku Menikahi Almamater (mu)

kurniawangunadi:

Ini adalah tulisan yang berangkat dari sebuah pernyataan di lini masa milikAndina Avika beberapa waktu yang lalu. Ada salah satu menikah jenis baru, yaitu menikahi almamater. Tidak hanya itu, lebih spesifik lagi adalah menikahi almamater-jurusan-dan profesi.


Semakin kesini, semakin aneh-aneh saja pemikiran para remaja yang terkontaminasi oleh pemikiran-pemikiran materialistis tentang keduniawian yang teramat sangat.

Lagi-lagi harus dibahas masalah seperti ini, ya tidak apalah, toh orang seumuran kita memang sedang pada masanya. Pabila pun ada anak SMA yang rajin menyimak tulisan dengan “genre” seperti ini. Anggap saja sedang belajar munakahat ya dek :)

Lagi-lagi aku dihadapkan pada sudut pandang baru, adalah sebuah gejala yang secara tidak disadari merasuk dalam jiwa-jiwa para akademisi yang mencari pendamping hidup dan mati.

Hei …

Kini, almamater tidak hanya berguna bagi para pencari kerja yang melamar kesana kemari. Tapi melamar atau dilamar pun beberapa orang menelisik almamater.

Ada seorang laki-laki jebolan kampus terbaik se Indonesia raya mendamba pendamping seorang dokter. Jika kamu bukan anak FK, maka sejak awal kamu tidak akan masuk kriterianya.

Ada seorang perempuan lulusan kampus termegah seindonesia raya. Kita ini laki-laki dari kampus pinggiran, urung, berpikir hendak mendekati saja tidak berani.

Sejak kapan kita menanamkan dalam diri kita sendiri dengan standar-standar keduniawian untuk menilai seseorang. Apakah kamu malu jika kamu berijazah kampus terbaik sementara perempuanmu sekedar dari kampus entah dimana dan jurusan yang sama sekali tidak menarik minat anak SMA untuk mendaftarnya.

Apakah ketinggian sekolahmu membuatmu memasang kriteria tinggi pula (dlm hal sekolah formal) untuk pendamping hidupmu? Apakah sebenarnya yang kamu cari? Keturunan super briliant dengan kecerdasaan diatas rata-rata? Teman diskusi super cerdas setiap malam tentang berbagai permasalahan pekerjaan, negara, dan politik?

Apakah kamu melupakan salah satu ilmu kebaikan yang selalu didengungkan semasa kita kanak-kanak.

Nak, jadilah seperti padi, semakin berisi, ia semakin menunduk.

Adakah ketinggian almamatermu membuatmu enggan melihat kebawah? Apakah kamu akan menggugurkan segala kebaikan seseorang hanya karena dia lulusan D3 (misal)? Astaga.

Aku yakin, sekian banyak dari kita mengalami hal seperti ini saat ini. Merasa minder dengan seseorang yang dirasai diatas kita, berasal dari kampus yang sangat baik sementara kita entah apa.

Aku yakin, sekian banyak dari kita pun mengalami, kesombongan diri yang melihat bahwa kita ini lebih baik dari yang lain. Merasa orang lain tidak selevel dengan kita hanya karena masalah, sekolah formal. Mendamba teman bicara dengan kapasitas yang sama, merasa bahwa dengan derajat sekolah formal yang sama akan lebih nyambung bicaranya. Bicara apa dulu ?

Adakah kita berpikir jernih, menanggalkan segala atribut kesarjanaan. Kita adalah sesama manusia, laki-laki dan perempuan. Ada fitrah yang diciptakan diantara kita.

Aku pernah berdiskusi tentang ini kepada kakak kelasku yang baik, dia seorang perempuan dengan sekolah yang sangat cemerlang.

Laki-laki tidak perlu merasa rendah diri hanya karena derajat sekolah formal. Perempuan tetaplah perempuan.

Pun perempuan, tak perlu merasa dirinya terlalu tinggi hingga memasang standar yang sangat tinggi pula, kamu lulusan S2, maka pelamarmu haruslah S3, minimal S2 lah. Ada banyak kebijaksanaan laki-laki yang tidak terlihat dari sekedar titel sarjana.

Kita semua merasai, sadar atau tidak sadar.

Seorang perempuan di ujung sana mendamba laki-laki yang dikenalnya. Yang berada di kampus terbaik di negerinya. Sedang ia merasa sebagai butiran debu, merasa tidak masuk perhitungan sama sekali.


Ada seorang laki-laki diujung sana, mendamba seorang dokter jelita. Hendak maju merasa hina, hendak mundur perasaan tiada lupa. Apa yang harus diperbuat.

Percayalah, urusan seperti ini itu selalu akan rumit jika dipikirkan. Yang perlu kita lakukan adalah, percaya. Karena selama ini kita seringkali mengabaikan adanya campur tangan Tuhan. Merasa segala hal akan tercapai dengan usaha kita sendiri.

Ah tulisan ini rumit, aku tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Paling tidak, kalian memahami sesuatu dan merasai sesuatu. Bukankah kita selama ini seringkali seperti itu?

Bandung, 19 Mei 2013

?

jurnalramadhan:

srahayuwidyan:

yes, keep calm and LOVE PHARMACY !

B-)

jurnalramadhan:

srahayuwidyan:

yes, keep calm and LOVE PHARMACY !

B-)

Journal of Ramadhan: memilih untuk tidak memilih? bolehkah??

srahayuwidyan:

seseorang pernah mengirimi saya ini:

“Saya sering katakan kepada para ikhwan, “Antum bebas jatuh cinta pada akhwat manapun, berapapun banyaknya -malah kalau bisa sebanyak-banyaknya. Tapi jadilah gentle dan sportif! Kalau ada ikhwan lain yang lebih siap datang mendahului menjemput sang angan pengisi sepi, jangan menangisi nasib diri! Persilahkan dengan gagah, bahkan bantu dengan segenap pengorbanan kalau perlu! Begitupun para akhwat, Antunna bebas mencintai ikhwan manapun. Tetapi kalau seorang berbeda yang baik akhlaq dan agamanya datang dan kita tak punya alasan syar’i untuk menolak, jangan sekali-kali menghindar!”

Ust. Salim A. Fillah

lantas saya berpikir.. jika seperti itu, bolehkah kita menolak khitbah seseorang?

*jiwa ke kepo an saya yang tinmggi lantas mencoba mencari tahu jawaban untuk pertanyaan tadi.

Sumber 1

Sebagian ulama mengatakan bahwa menolak khitbah seorang ikhwan adalah terlarang dengan merujuk pada sabda Nabi saw :

“Apabila datang kepadamu seorang yang engkau sukai agama dan akhlaknya untuk mengkhitbah, maka terimalah! Kalau tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi” (HR.Tirmidzi)

Dengan hadist ini seringkali para ikhwan menjadikannya alat untuk menjerat para akhwat yang disukainya agar mau menerima lamarannya, walaupun akhwat tersebut kurang ‘berselera’.

Namun sesungguhnya peringatan hadist ini kalau dibaca dalam konteks yang utuh, bukan ditujukan kepada akhwat, namun ditujukan kepada wali akhwat. Maksudnya, seorang wali harus menjadikan faktor akhlak dan keshalehan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan jodoh untuk anaknya. Sementara akhwatnya itu sendiri diberi kebebasan untuk menerima atau menolak lamaran siapapun, baik yang melamar itu ‘santri’ ataupun ‘preman’.

Wallahu’alam bishowab
Oleh:Ustad Aam amirudin M.Si

Sumber 2

“Apabila engkau tidak berhasrat untuk menikah dengan seseorang maka engkau tidaklah berdosa untuk menolak pinangannya, walaupun ia seorang laki-laki yang shalih. Karena pernikahan dibangun di atas pilihan untuk mencari pendamping hidup yang shalih disertai dengan kecenderungan hati terhadapnya.

Namun bila engkau menolak dia dan tidak suka padanya karena perkara agamanya, sementara dia adalah seorang yang shalih dan berpegang teguh pada agama maka engkau berdosa dalam hal ini karena membenci seorang mukmin, padahal seorang mukmin harus dicintai karena Allah, dan engkau berdosa karena membenci keteguhannya dalam memegang agama ini.

Akan tetapi baiknya agama laki-laki tersebut dan keridhaanmu akan keshalihannya tidaklah mengharuskanmu untuk menikah dengannya, selama tidak ada di hatimu kecenderungan terhadapnya. Wallahu a’lam” (Al Muntaqa min Fatawa Fadilatusy Syaikh Shalih Al Fauzan, 3/226-227, sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah, 2/706-707)

Wallahu’alam, kisah ditolaknya khitbah Salman Al Farishi jg bisa menjadi contoh, bahwa seorang perempuan juga punya hak untuk menolak pinangan. Ataupun ditolaknya lamaran Abu Bakar dan Umar yang hendak meminang Fatimah. Namun, hadist rasullulah berikut, perlu dipertimbangkan

“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)

Semoga Allah memberi kita petunjuk atas segala keputusan-keputusan kita

Kegiatan di kampus udah selesai. Dan sekarang aku bingung harus ngapain buat menyambut malam minggu kali ini, eh sabtu malam ding.. :D

Keluar jalan-jalan di sabtu malam kayaknya nggak deh. Soalnya jam segini aja Jogja udah gelap, mendung banget. Kamarku aja udah berasa kayak udah mau magrib saking gelapnya dan aku tetap bertahan gak ngidupin lampu. Dan aku yakin banget para jomblo mulai merapal doa-doa biar malam ini hujan deras.. Hehehe..

Karena bingung mau ngapain akhirnya aku dengerin radio sambil buka folder-folder foto. Dan sampailah aku di folder foto jaman KKN. Ahh.. Ternyata anak-anak, dan suasana KKN itu bisa ngangenin juga.. :’)

Kayaknya emang harus ikut berdoa biar malam ini hujan deras. Jogja udah lama gak kesiram hujan. Beberapa hari ini gerahnya pake banget.. :p

Oke. Sekian.

amaliaresturini:

Happy Graduation Guys… :)

Upload dong Mal foto semua anak Smanpala yang wisuda kemarin.. Ado dak yang dalam satu foto ado galo anak Smanpala yang diwisuda?? :D

amaliaresturini:

Happy Graduation Guys… :)

Upload dong Mal foto semua anak Smanpala yang wisuda kemarin.. Ado dak yang dalam satu foto ado galo anak Smanpala yang diwisuda?? :D

Hayyoo.. Bisakah kalian menemukan aku?? :D
Hutan Pinus. Imogiri, Yogyakarta. Indonesia

Hayyoo.. Bisakah kalian menemukan aku?? :D

Hutan Pinus. Imogiri, Yogyakarta. Indonesia

Kita selalu mencari ribuan alasan yang bisa menerangkan mengapa kita jatuh cinta, tapi pada akhirnya, kita kembali pada satu kesimpulan: kita tidak punya satu pun alasan.

( Intan Kirana dalam Prosa Layang-Layang (via kuntawiaji) )

WebCounter