I told myself, If I make them happy, Allah will bless me and that’s what makes me happy. Because i know, that’s what exactly what i’ll need.

Dena dalam salah satu tulisan di blognya juga menuliskan ini..

Kalau cinta Allah diutamakan, keredhaan Ibu bapa didahulukan, insyaAllah cinta abadi sesama manusia sentiasa menanti.

Bahagia rasanya melihat saudara Muslim kita telah sampai di “gerbang” itu dengan “selamat”. Tetap berusaha, berdoa, dan percaya kita semua juga bisa sampai di “gerbang” itu dengan “selamat”. Do you know what I mean?? Hahaha..

Tetap semangat semuanya..

The right man,

in the right time, with the right place, with the nice face

and in a good way.. :)

Wedding Dress

Pengumuman semuanyaa.. Aku lagi galau. Ehh, masih jaman gak sih galau sekarang? Huehehe..

Bukan, bukan galau kok. Tapi kepikiran aja dari tadi. Jadi gini ceritanya..

Sore tadi waktu buka facebook, ada teman yang nge-like foto dari facebook Wedding Portrait Photography dari Malaysia. Di foto itu terlihat mempelai wanita menangkupkan tangannya di muka. Tanda rasa syukur karena telah SAH. Hmm.. Tiba-tiba aku nge-klik foto itu dan selanjutnya mulai meneliti facebook si empunya foto.

Kenapa aku buka facebooknya??

Karena sebenarnya aku penasaran dengan baju pengantinnya. Huahaha..

Dulu aku pernah liat ada lomba menulis konsep pernikahan impian. Semakin detail konsepnya semakin baik. Hadiah dari lomba ini pun cukup wow.. Gratis baju pengantin beserta riasan sesuai konsep yang diinginkan senilai 20 juta rupiah. Huaaaaaa…

Dan.. Seketika aku langsung bengong sendiri. Kenapa? Karena saat itu aku belum punya konsep pernikahan impian. Belum pernah memikirkannya. Sama sekali belum pernah. Oh my.. >,<

Mungkin hampir semua perempuan sudah memiliki konsep pernikahan impian mereka sendiri. Lebih milih pakaian daerah daripada gaun putih. Akad nikah di masjid. Resepsi pernikahan di gedung. Atau mungkin ada beberapa yang memilih pesta kebun nan cantik kayak Edward dan Bella. Beberapa ada yang memilih pesta sederhana yang hanya dihadiri keluarga besar. Sebagian yang lain mengundang sebanyak-banyaknya kenalan mereka. Tapi aku belum pernah memikirkan hal ini.

Seketika saat itu aku langsung searching contoh pakaian pengantin muslimah. Hahaha… Cari cari cari.. Obrak-abrik Google. Keluar masuk blog, website. Daannn…  Ternyata eh ternyata pakaian pengantin muslimah itu masih sedikit banget contohnya. Sebenarnya ada beberapa contoh, tapi aku masih kurang sreg liatnya (lohh.. ini kayak bener-bener mau beli pakaian pengantin :p).

Aku sempet pernah liat pakaian pengantin Malaysia. Dan jadi excited waktu nemu facebook Wedding Portrait Photography tadi. Dari beberapa contoh yang pernah aku liat, pakaian pengantinnya cantik. Umumnya berbentuk gaun dengan payet-payet cantik. Simple and chic. Trus apa spesialnya?? Pakaian pengantin di Indonesia juga banyak yang kayak gitu. Hmm.. Yang spesial di sana adalah jilbabnya. Jilbab pengantinnya masih menutupi dada. Bukan sekedar kain penutup rambut yang habis dililit-lilit buat modifikasi. Hmm..

Mungkin banyak juga pengantin di Indonesia yang masih menggunakan jilbab yang menutupi dada di hari besar mereka. Tapi sejauh ini aku sangat jarang melihat foto-fotonya. Atau.. Ahh.. Aku tahu. Tidak semua orang membagi hal-hal pribadi mereka di ruang maya. Oke.. Cukup dimengerti. :)

Tapi girls.. Jilbab yang sudah baik itu, yang udah dipakek tiap hari itu, gak perlu dikorbanin kan cuma buat acara satu hari (Self note!). Iya kan iya dong. Bener kan bener donggg.. :D

Oh iya, waktu aku menelusuri foto-foto itu aku menemukan satu blog. Dan tahu apa yang terjadi selanjutnya?? Aku tersesat. Ya aku tersesat di sana. As always. Haha..

Mungkin next time aku ceritain apa yang aku temukan di sana.. :)

Btw, sudahkah kalian punya konsep pernikahan impian?? *nyengir*

***

Sampe tulisan ini selesai dibuat aku menonton 3 lamaran. 1 video dari youtube (sengaja download), 1 film (gak sengaja nonton) dan 1 disiarin langsung di TV (reality show Indonesia. Finally, mereka lamaran juga.. :D). How come?? I dunno. Well, I miss my family soooo.. :’)

Dejanira: Kultwit Ust.Felix, Nishfu Sya'ban #2

annisaadejanira:

01. malam ini, TL saya tiba2 “banjir” dengan pertanyaan seputar nishfu sya’ban, karena harini terkirakan tgl 14 sya’ban, pertengahan sya’ban
02. heboh deh “nishfu sya’ban” (anehnya kok nggak masuk trends ya?) | “apa amalannya?” “shahih nggak sih?” “gimana caranya?” de el el
03. sy sampaikan, sesuai share sy ttg sya’ban di »http://chirpstory.com/li/11560 | bahwa tidak ada ibadah khusus yg diutamakan di nishfu
04. satu2nya amalan yg diriwayatkan shahih dari hadits2 adl bahwa Rasulullah habiskan sebagian besar hari2 di bln sya’ban dengan berpuasa
05. adapun hadits2 yg berkaitan keutamaan sya’ban lainnya, ulama jumhur menilai itu hadits lemah bahkan palsu
06. jadi kalo mau ibadah utama di bulan sya’ban, perbanyak aja puasa | that’s all, perbanyak ibadah sunnah lain, itung2 siap2 ramadhan
07. yang jadi poin keanehan sy sih bukan disitu, tapi pada “heboh”nya itu lo :)
08. oke, coba ikuti jalur pikiran saya | kalopun ada, kalopun shahih, nishfu sya’ban itu tetep amalan sunnah kan? bukan wajib? sepakat?
09. artinya, kalopun shahih, kalopun bener | maka kl amalkan pahala, kl nggak amalkan nggak papa, betul nggak?
10. nah, herannya | kenapa sampe “heboh” banget pdhl itu perkara sunnah, sementara perkara wajib yg dalil2nya jelas banget malah diabaikan?
11. ada yg semangat banget amalin nishfu sya’ban sampe cari2 hadits dhaif | tapi kalem aja pas dikasi hadits shahih ttg menutup aurat hehe..
12. ada yg semangat banget amalin nishfu sya’ban sampe shalat 100 rakaat | pulangnya masih boncengan sama pacar, lha piye ki?
13. padahal, dalam Islam udah jelas, bahwa kewajiban itu prioritas diamalkan, dari segi apapun | wajib dulu, sunnah hiasan, gitu kan :)
14. coba bayangin, kl ada orang yg shalat sunnah shubuh terus tidur nggak shalat shubuh yg wajib | aneh nggak? :D
15. beginilah kondisi ummat kita sekarang | hobi “heboh” yg sunnah tapi lupakan yang wajib, sori kalo salah, tp kayaknya nggak deh
16. apa mungkin karena yg wajib itu nuntut pengorbanan dan konsekuensi, sementara yg sunnah itu bisa kita lakukan/tinggal sesuka hati?
17. sedekah, tahajud, dhuha » mungkin nggak terlalu banyak korban | dibanding tutup aurat, bebaskan diri dari riba, atau putus pacaran? :)
18. padahal zaman dulu para shahabat selalu utamakan yang wajib, dan perbanyak yang sunnah | bukan merasa sunnah bisa gantikan yang wajib
19. perhatikan perkataan ulama besar Ibn Mubarak “Meninggalkan 1 dirham yang syubhat; lebih aku suka daripada sedekah 1000 dinar” | nah
20. in other words, bila kita semangat broadcast amalan nishfu sya’ban, harusnya lebih semangat sebarin “wajibnya tutup aurat” kan? :D
21. kesimpulannya, yuk, di pertengahan sya’ban ini (nishfu sya’ban), mari kita lihat, kewajiban apa lg yg belum kita penuhi sebagai Muslim?
22. penuhi semua kewajiban yg Allah beri, agar jadi hiasan berharga sunnah2 yg kita telah usahakan | agar Allah ridha dan cintakan kita :D

Reblog: Mujahidah: Ummu Mutiah, Perempuan Pertama Penghuni Surga

Fatimah Az-Zahra, walaupun putri kesayangan Rasulullah SAW, namun tidak pernah manja. Pantang baginya meminta sesuatu kepada sang ayah. Hidupnya sederhana, dan taat beribadah. 


Sebagai seorang istri, serta ibu dari Hasan dan Husein, Fatimah selalu sabar dan ikhlas. Tugas kesehariannya dijalani sendiri, seperti menggiling gandum sampai tangannya lecet.

Tidak ragu mengangkut air untuk kebutuhan keluarga hingga alasnya berbekas di dadanya. Rumah Fatimah selalu bersih, dan rapi berkat keuletannya mengurus perabotan di rumah.

Suatu hari Fatimah menanyakan kepada ayahnya, siapakah perempuan yang pertama kali masuk surga? Rasulullah menjawab, “Wahai Fatimah, jika engkau ingin mengetahui perempuan pertama masuk surga, selain Ummul Mukminin, dia adalah Ummu Mutiah.” 

“Siapakah Mutiah itu, ya Rasulullah? Di manakah dia tinggal?” tanya Fatimah penasaran. Karena tidak ada yang mengenal Mutiah. Rasulullah menjelaskan, Ummu Mutiah yang dimaksud adalah perempuan yang tinggal di pinggiran Kota Madinah.

Jawaban itu membuat Fatimah tercengang. Ternyata bukan dirinya perempuan yang masuk surga pertama kali. Padahal Fatimah sebagai putri Rasulullah, dan telah menjalankan ibadah, amalan, serta bermuamalah dengan baik. 

Untuk memenuhi rasa penasaran, Fatimah berkunjung ke rumah Mutiah di pinggiran Madinah. Dia ingin menyelidiki amalan dan ibadah apa yang dilakukan Mutiah hingga Rasulullah menyebut namanya sebagai perempuan terhormat.

Keesokan harinya, Fatimah pamit kepada suaminya mengunjungi kediaman Mutiah. Dia mengajak putranya Hasan. Setelah mengetuk pintu, memberi salam, terdengar suara dari dalam rumah. “Siapa di luar?” tanya Mutiah. 

Fatimah menjawab, “Saya Fatimah, putri Rasulullah.”

Mutiah belum mau membuka pintu, malah balik bertanya, “Ada keperluan apa?”

Fatimah menjawab, ingin bersilaturahim saja. Dari dalam rumah Mutiah kembali bertanya, “Anda seorang diri atau bersama yang lain?”
“Saya bersama Hasan, putra saya,” jawab Fatimah dengan sabar.

“Maaf, Fatimah,” kata Mutiah, “Saya belum mendapat izin dari suami untuk menerima tamu laki-laki.”

“Tetapi Hasan anak-anak,” balas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga. Besok saja kembali lagi setelah saya mendapat izin dari suami saya,” timpal Mutiah.

Fatimah tidak bisa menolak. Setelah mengucapkan salam ia bersama Hasan meninggalkan kediaman Mutiah.

Keesokan harinya, Fatimah kembali mengunjungi rumah Ummu Mutiah. Kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, Husein pun ingin ikut ibunya. Tiba dikediaman Ummu Mutiah, terjadi lagi dialog dari balik pintu. 

Menurut Mutiah, suaminya telah mengizinkan Hasan masuk ke rumahnya. Sebelum pintu dibuka, Fatimah mengatakan, kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, melainkan bertiga bersama Husein. Mendengar jawaban Fatimah, Mutiah urung membukakan pintu.

Mutiah menanyakan, apakah Husein seorang perempuan? Fatimah meyakinkan Mutiah bahwa, Husein cucu Rasulullah, saudaranya Hasan. “Dia seorang anak laki-laki.” 

“Saya belum meminta izin kepada suami kalau Husein mau berkunjung ke rumah ini,” kata Mutiah.

“Tapi Husein masih anak-anak,” tegas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, Husein laki-laki juga. Maafkan Fatimah, bagaimana kalau kembali besok, setelah saya meminta izin kepada suami,” kata Mutiah.

Fatimah tidak bisa memaksa Mutiah. Dia bersama Hasan dan Husein kembali pulang, namun besok berjanji untuk datang lagi.

Keesokan harinya, Mutiah menyambut kedatangan Fatimah bersama Hasan dan Husein dengan gembira. Kali ini kehadiran Hasan dan Husein telah mendapat izin dari suaminya. Fatimah pun bersemangat ingin segera ‘menyelidiki’ ibadah, amalan, dan muamalah apa saja yang dilakukan perempuan pertama masuk surga ini.

Keadaan rumah Mutiah jauh dari yang dibayangkan Fatimah. Rumahnya sangat sederhana, tanpa perabotan mewah. Namun, semuanya tertata rapi dan bersih. Tempat tidur beralaskan seprai putih yang harum. Setiap sudut ruangan tampak segar dan wangi membuat penghuninya senang berlama-lama di rumah. Hasan dan Husein pun merasa betah bermain di kediaman Ummu Mutiah.

Selama berkunjung, Fatimah tidak menemukan sesuatu yang istimewa dilakukan Mutiah. Namun, Ummu Mutiah kelihatan sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. “Maaf Fatimah, saya tidak bisa duduk tenang menemanimu, karena saya harus menyiapkan makanan untuk suami,” ungkap Mutiah yang terlihat sibuk.

Mendekati waktu makan siang semua masakan sudah tersedia. Mutiah menuangkan satu per satu makanan di wadah khusus untuk dikirim ke suaminya yang bekerja di ladang. Yang membuat Fatimah heran, selain makanan, Mutiah membawa bekal sebuah cambuk. 

“Apakah suamimu penggembala?” tanya Fatimah. Menurut Mutiah, suaminya bekerja sebagai petani, bukan penggembala. 

“Lalu, untuk apa cambuk tersebut?” tanya Fatimah semakin penasaran.

 Mutiah menjelaskan, cambuk ini sangat penting fungsinya. Jika suami Mutiah merasa masakan istrinya tidak enak, dia ridha cambuk yang ‘bicara’. 

Mutiah akan menyerahkan cambuk kepada suaminya untuk dipukulkan ke punggungnya. “Berarti aku tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya,” kata Mutiah.

“Apakah itu kehendak suamimu?” tanya Fatimah.

“Ini bukan kehendak suami. Suamiku orang yang penuh kasih sayang. Semua ini kulakukan karena keinginanku sendiri, agar jangan sampai menjadi istri durhaka kepada suami.” 

Jawaban Mutiah menjadi jawaban atas misteri yang selama ini dicari Fatimah. Masya Allah, demi menyenangkan suami, Mutiah rela dicambuk. 

“Aku hanya mencari keridhaan dari suami, karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan suami ridha kepada istrinya,” ujar Mutiah.

“Ternyata ini rahasianya,” gumam Fatimah. 

Mutiah kini balik heran, “Maksudnya rahasia apa, Fatimah?” 

Fatimah menjelaskan bahwa Rasulullah mengatakan dirinya (Ummu Mutiah) adalah perempuan yang diperkenankan masuk surga pertama kali.

“Pantas saja kelak Mutiah menjadi perempuan pertama masuk surga. Dia menjaga diri dan sangat tulus berbakti kepada suami,” ujar Fatimah dalam hati. 

Apa yang dilakukan Mutiah bukan simbol perbudakan suami kepada istrinya. Melainkan cermin ketulusan, dan pengorbanan istri yang patut mendapat balasan surga. 

Redaktur: Chairul Akhmad

Reporter: Susie Evidia

-Subhanallah..-

Teks asli bisa dibaca di sini, sini dan sini.. Huehehe..

Tulisan : Laki-laki ditanya Jilbab

suatu saat disebuah ruang keluarga yang nyaman,seorang ayah dan anak perempuannya sedang berbincang bincang
Anak :
Ayah , cantik nggak kalo pake ini ? (sambil mengepas-ngepaskan jilbab mode terbaru di depan ayahnya)
Ayah :
anak ayah mah tetep cantik mau digimanain , udah dari sananya gitu
Anak :
yeeee . . . kalo yang ini ?
Ayah :
hmmm warnanya kok gitu
Anak :
kan lagi nge trend yah , jilbab gaul gitu
Ayah :
oooh . . . sejak kapan kamu pake yang model gitu ?
Anak :
belum yah , mau nyobain , ini juga dari temen , Ayas cobain ya Yah
Ayah :
coba ayah mau liat
sang anak kemudian berbenah dan mencoba
Ayah :
wah cantik banget , tapi . . .
Anak :
tapi kenapa yah
Ayah :
yakin mau pake itu ? terlalu menarik perhatian menurut ayah , bukan jilbab yang baik
Anak :
emang yang baik yang gimana yah ?
Ayah :
yang biasa kamu pake , jilbab yang baik itu yang ketika shalat pun , tanpa mukena lagi kamu sudah bisa melaksanakan shalat dengan pakaian dan jilbabmu itu
Anak :
. . . . .
Ayah :
kalo itu , pasti repot deh , masak mau shalat pakaiannya kayak gitu ?
Anak :
(tersenyum) okeeee siap ayah !
Ayah nya tersenyum , menangkap pemahaman putrinya yang baik , ia tidak khawatir lagi . . .
natiqoh:

Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”. Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil &amp; memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.”“Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”Sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.Semoga di Indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia seperti ini.

natiqoh:

Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.

Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”. 

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.”

“Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

Sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga di Indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia seperti ini.

(via ntqhrst)

#UdahPutusinAja

kurniawangunadi:

  1. pacaran itu menjalin silaturahim | “silaturahim itu hubungan ke kerabat, bukan pacaran” #UdahPutusinAja
  2. pacaran itu bikin semangat belajar | “semangat belajar maksiat?” #UdahPutusinAja
  3. pacaran itu buat dia bahagia, itu kan amal shalih | “ngarang, btw, telah bahagiakan ibumu? ayahmu?” #UdahPutusinAja
  4. pacaran itu sekedar penjajakan kok | “serius nih penjajakan? ketemu ibu-bapaknya berani?” #UdahPutusinAja
  5. kasian kalo diputusin | “justru tetep pacaran kasian, dia dan kamu tetep kumpulin dosa kan?” #UdahPutusinAja
  6. kasian dia diputusin, aku sayang dia | “putusin itu tanda sayang, kamu minta dia untuk taat sama Tuhannya, betul?” #UdahPutusinAja
  7. putus itu memutuskan silaturahim | “silaturahim itu kekerabatan, sejak kapan dia kerabatmu?” #UdahPutusinAja
  8. nggak tega putusin.. | “berarti kamu tega dia ke neraka karena maksiat? apa itu namanya sayang?” #UdahPutusinAja
  9. aku nggak zina kok, nggak pegang2an, nggak telpon2an, kan nggak papa? | “nah bagus itu, berarti gak papa juga kalo putus” #UdahPutusinAja
  10. aku pacaran untuk berdakwah padanya kok | “ngarang lagi, dakwahmu belum tentu sampai, maksiatmu pasti” #UdahPutusinAja
  11. nanti putusin dia gw gak ada yg nikahin gimana? | “pacaran tak jaminan, realitasnya banyak yg nggak nikah sama pacarnya” #UdahPutusinAja
  12. berat mutusin | “semakin berat engkau tinggalkan maksiat untuk taat, Allah akan beratkan pahalamu ” #UdahPutusinAja
  13. nanti aku dibilang nggak laku gimana? | “bukan dia yang punya surga dan neraka, abaikan saja” #UdahPutusinAja
  14. kalo aku putusin dia, dia ancam bunuh diri | “belum apa2 pake anceman psikologis, dah nikah dia bakal ancem bunuh kamu!” #UdahPutusinAja
  15. dia masi ada utang ke aku, berat mutusinnya | “hehe.. kamu ini rentenir ya? kl terusan hutangnya malah nambah” #UdahPutusinAja
  16. pacaran itu makan waktu, makan duit, makan hati | mending waktu, duit dan hati diinvestasikan ke Islam, #UdahPutusinAja
  17. pacaran memang tak selalu berakhir zina, tapi hampir semua zina diawali dengan pacaran, #UdahPutusinAja
  18. pacaran itu disuruh mengingat manusia, bukan mengingat Allah | melisankan manusia bukan Allah, #UdahPutusinAja
  19. pacaran itu bikin ribet, dikit2 bales sms, dikit2 telpon, dikit-dikit minta dikirim pulsa (wah, sms mamah baru nih) #UdahPutusinAja
  20. pacaran itu dikit-dikit galau, dikit-dikit galau, galau kok dikit-dikit? hehe.. #UdahPutusinAja
  21. lelaki, coba pikir, senangkah bila engkau menikah lalu ketahui bahwa istrimu mantan ke-7 laki-laki berbeda? #UdahPutusinAja
  22. wanita, coba pikir, inginkah berkata pada suamimu pasca akad kelak “aku menjaga diriku utuh untukmu, untuk hari ini ” #UdahPutusinAja

Sumber : @felixsiauw


Suntikan semangat buat para anggota #TeamSingle dan ketuanya yang sering galau.. Huehehe.. :D

Tetap semangat ya. Sampai saatnya nanti kita bertemu dengan si “dia”, di waktu yang tepat dan dengan cara yang terbaik.. :)

Ali-Fatimah

Kisah paling romantis di dunia :”)

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. 

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).



-Udah berkali-kali baca kisah ini tapi rasanya masih tetap sama kayak waktu pertama kali baca. Subhanallah sekali… :D -

(Source: defildaily.multiply.com, via fingerdancer)

Sesuatu yang belum halal disentuh dengan tangan, sentuhlah hatinya dengan doa.

( (via kuntawiaji)

(via namasayakinsi)

)
#Makjebbbbb&#8230;

#Makjebbbbb…

(Source: mandalawangi, via kuntawiaji)


WebCounter